7+ Sikap Pengusaha Ketika Menghadapi Kebangkrutan Bisnisnya

Setiap bisnis dan usaha, pasti mengalami yang namanya jatuh bangun. Seperti hidup, ada juga roda bisnis yang membuat setiap pengusaha harus bersiap menghadapi kemungkinan terburuk yang bisa menimpa bisnis-nya. Lalu bagaimana sikap pengusaha yang baik saat menghadapi kebangkrutan atau kegagalan bisnis?

Bertemu lagi dengan ukmsumut, blog yang membahas dunia usaha dan bisnis ukm untuk kamu. Mengenai cara menghadapi kegagalan, It’s all about mindset. Kita bersama sering menganggap ini sebagai takdir. Namun bila kamu bersifat optimis, kegagalan adalah awal dari kesuksesan bisnis, betul tidak?

Siapa pengusaha yang suka mendapati kebangkrutan? tentu saja semua orang tidak ingin ketika hidupnya lagi di bawah atau down, bukan? Sering kita lupa bahwa ketika kamu mendapatkan kebangkrutan, atau kondisi sedang di bawah, justru saat itulah ada banyak pelajaran yang bisa kamu petik.

Banyak pengusaha menjadi besar dan sukses, karena justru mendapatkan pelajaran paling berharga ketika mereka berada dalam kondisi terpuruk atau dalam kondisi terkena kebangkrutan. Karena ketika kondisi kamu sedang mulus atau kondisi baik-baik saja, maka kamu tidak akan belajar apapun.

Baca juga : 7 Kesalahan Rencana Bisnis UMKM dan Cara Mengatasinya

Intinya, You can’t learn something. Karena kamu tidak merasakan terjalnya kehidupan bisnis. Seseorang justru bisa belajar sesuatu ketika dia mengalami kebangkrutan, ketika dia lagi di bawah, ketika dia lagi terpuruk, atau hutangnya menumpuk.

Bagaimana cara menghadapi kegagalan bisnis? Setidaknya mimin sudah rangkum dalam beberapa sikap yang akan kamu ambil, kita ambil contoh dengan 5 jenis gelas yang mencerminkan sikap ketika kamu menghadapi kebangkrutan.

 

Sikap pertama seperti gelas yang tertutup

Gelas yang tertutup, apabila dia tertutup, maka gelas tersebut sudah tidak bisa diisi apapun. Banyak orang yang ketika menerima kebangkrutan, dia tidak mau menerima masukan orang lain. Dia menganggap semua orang lain salah. Dan dia sendiri tidak tahu mana yang benar. Dia tidak mau menimbang dan merenungkan kata-kata orang lain.

Kamu menganggap bahwa pesan dari artikel yang mimin tulis ini adalah pesan yang tidak pernah mau kamu dengarkan. Kamu mungkin berpendapat kami hanya berteori, kami tidak mau mendengarkan nasehat, kami cuma membual, kami cuma berkata bullshit atau omong kosong.  Itu artinya kamu membaca ini seperti gelas tertutup.

Parahnya lagi, kamu selalu mencari pembenaran untuk diri sendiri. Kamu selalu menganggap diri kamu yang paling benar, kamu selalu menganggap diri kamu yang paling mengerti segalanya. Apabila kamu seperti ini, menurut kami sikap mu seperti gelas yang tertutup.

 

Sikap kedua, seperti gelas yang sudah penuh terisi air

Kalau gelas yang ini tidak dapat diisi apapun lagi. Gelas ini menggambarkan seseorang yang mau mendengar, akant tetapi karena dalam dirinya sudah punya suatu kepercayaan, sudah punya suatu believe system, sudah punya suatu prinsip dan pedoman, maka ajaran yang lain tidak bisa diterimanya. Dia sudah memiliki suatu doktrin untuk tidak bisa mempertimbangkan kata-kata orang lain.

Sifat ini memang terbuka. Akan tetapi, kamu sudah tidak bisa lagi menerima masukan. Sehingga kamu merasa pendapat orang lain itu tidak benar. Kamu sebenarnya mendengarkan, tetapi dalam hatin seperti ini “Kamu bicara apa sih?” Gayanya seperti sinis, tetapi mendengar.

Baca lainnya : Langkah Awal Memulai Bisnis Setelah Bangkrut, dengan 5 Kekuatan ini

Kamu mungkin tidak balik menyerang, namun kamu bisa saja bersikap seperti air yang penuh.  Kamu memiliki sikap seperti apa? seperti gelas yang tertutup, atau gelas yang penuh dengan air? Silahkan kamu comment di bawah. Karena memang dirimu sendiri yang tahu mengenai cara mu menghadapi kegagalan seperti apa.

 

Sikap ketiga, seperti gelas yang pecah

Ini adalah sikap yang paling merugi. Karena sekalipun dapat diisi, namun gelas ini tidak bisa menampung air yang masuk ke dalam gelas tersebut. It’s useless. Gelas ini menggambarkan seseorang yang tidak mampu mencerna nasehat orang lain, sama sekali.

Karena itu meskipun kamu mau mendengarkan nasehat, tetapi kamu tidak mampu memahami nasehat tersebut.
Kamu justru semakin pusing mendengar apa kata orangtua, klien atau rekan bisnismu. Inilah yang dimaksud seperti gelas pecah yang pecah. Apakah hal tersebut berupa hambatan fisik, hambatan mental, atau hambatan lain yang menghalangimu untuk tidak bisa menerima apa pun yang mereka katakan.

Kamu mungkin saja mempunyai keterbatasan fisik. Akan tetapi hal tersebut sebenarnya tidak menghalangi kamu untuk terus maju. Artinya gelas yang pecah itu  memang suatu keterbatasan wawasan, sehingga mungkin pemahaman mu akan sulit dipahami oleh sebagian orang tertentu.

 

Sikap keempat, gelas yang berisi kotoran

Sikap yang keempat ketika seorang pebisnis menghadapi kebangkrutan adalah ibarat gelas yang berisi kotoran. Karena apapun yang dituangkan ke gelas tersebut, pasti akan menjadi kotor, terkontaminasi. Sikap ini menggambarkan seseorang yang punya niat jahat atau sikap jahat. Jika orang ini bertemu dengan orang yang lebih baik dan hebat, maka dia akan menjadi iri dan tidak senang.

Kok bisa sih, omset bisnis sampai milyaran? Omongannya cuma segitu doang kok. Kalau begini saja, saya juga bisa kok. Dia pasti punya pelet, supaya usahanya laris. Dan berbagai prasangka buruk mengenai kompetitor, yang lama-kelamaan akan merusak pikiran kamu sendiri. Lebih buruknya lagi, ketika kamu menghadapi kegagalan bisnis, kamu malah melampiaskannya kepada orang-orang terdekat mu.

Jadi apabila kamu melihat apapun, kamu psati melihatnya dengan kacamata penuh kotoran. Kacamata kamu itu penuh kotoran. Kamu menilai bahwa dunia itu kotor. Sebenarnya bukan dunia yang kotor, tetapi gelas mu yang kotor. Sehingga kamu melihat apapun sebagai sesuatu yang negatif.

Baca juga : Bagaimana Mengatasi Takut Rugi dalam Memulai Bisnis? Berikut Solusinya!

Ketika kamu bertemu dengan orang yang lebih bodoh, levelnya di bawah kamu, maka kamu akan cenderung menghina atau merendahkan. Bahkan ketika bertemu dengan orang yang setara, kamu menganggap dia sebagai pesaing. Jika ada orang yang lebih hebat dari dia, dia merasa tidak percaya diri.Sifat seperti ini menurut kami merupakan sikap seorang haters

 

Sikap kelima, gelas yang penuh minyak

Nah pada sikap seperti gelas yang penuh dengan minyak, maka harus diisi dengan air yang banyak, sehingga bisa jernih dan bisa diminum, bukan? Begitu juga dengan sikap yang menghadapi kegagalan, pada awalnya memang penuh dengan keputusasaan, hal-hal negatif dan prasangka buruk

Namun setelah diberikan nasehat dan masukan positif secara terus menerus, kamu bisa bersikap layaknya gelas yang penuh, terisi air jernih. Dengan demikian, yang diperlukan oleh orang dengan sikap seperti sebenarnya adalah waktu yang cukup untuk menata kembali pikiran dan perasaaannya yang sempat hancur menghadapi kegagalan.

 

Sikap keenam, gelas yang retak

Sikap pengusaha selanjutnya ketika menghadapi kegagalan adalah seperti gelas yang retak. Kamu masih bisa menerima masukan dan saran dari orang lain, namun tidak sebaik ketika gelas masih utuh dan bagus. Karena retak, gelas tersebut akan sangat mudah untuk pecah, sehingga setiap masukan yang diberikan akan hilang tanpa bekas.

Namun apabila diberikan komitmen, dan mentor yang tepat, maka sikapnya bisa solid menerima setiap saran yang diberikan. Gelas yang retak bisa dilem kembali sehingga bisa menampung setiap masukan dari orang-orang disekitar mu. semoga saja kamu bisa bersikap bukan seperti gelas yang retak, namun seperti gelas yang kosong, sepert dibawah ini.

 

Sikap yang ketujuh, gelas kosong

Apabila gelas tersebut kosong, maka kamu akan lebih mudah menerima masukan, bukan? Meskipun kamu memiliki title, ]atau kamu seorang sarjana. Sikap mereka jauh lebih humble, jauh lebih rendah hati daripada orang yang tidak tamat sekolah sekalipun.  Beberapa orang bahkan pengusaha besar, memiliki sikap seperti ini ketika menghadapi kebangkrutan.

Omzet mereka dalam satu bulan bahkan mencapai puluhan miliar, tetapi mereka itu humble dan datang dengan sikap yang mau belajar. Belajarlah dari mereka yang punya sikap gelas kosong ini. Gelas ini menggambarkan orang yang ideal, mau belajar, selalu mau menampung apapun dan akan dipraktekkan.

Baca juga : 11 Alasan Usia Tua Belum Terlambat untuk Memulai Bisnis

Demikian pembahasan ukmsumut mengenai 7+ Sikap Pebisnis Ketika Menghadapi Kebangkrutan Usahanya kali ini, semoga bermanfaat dan menjadi sumber referensi bagi kalian. Jangan putus asa, jadilah pebisnis dengan gelas kosong, ketika menghadapi kegagalan, karen dengan demikian kalian akan lebih mudah menerima saran dan masukan dari orang lain.

Silahkan bookmart halaman ukmsumut, serta bagikan tulisan ini dengan menekan tombol share di media sosial kalian dibawah ini. dengan demikian, kalian bisa berkontribusi memberikan hal-hal positif bagi teman-teman online di media sosial kalian. Terimakasih.